Hosting Unlimited Indonesia

Trump Tak akan Bantu Mediasi India-Pakistan soal Ketegangan di Kashmir

Presiden Trump hari Senin (26/8) mengatakan, dia tidak perlu membantu dan melakukan mediasi antara Pakistan dan India seputar ketegangan di Kashmir karena PM Narendra Modi merasa dia sudah mengendalikan situasi di sana.


Pada 5 Agustus, pemerintahan nasionalis Hindu yang dipimpin Narendra Modi menghapus status otonomi Kashmir, teritori yang dihuni oleh mayoritas Muslim, dimana sudah puluhan ribu orang tewas dalam pemberontakan terhadap kekuasaan India sejak 1989. Mereka yang tewas kebanyakan warga sipil.


Sebelumnya bulan ini, Trump mengatakan, dia siap untuk berperan, tetapi dalam pertemuan dengan Modi pada konferensi G7 di Prancis, Trump mengatakan, “PM (Modi) merasa dia benar-benar sudah mengendalikan situasi di sana.”


Trump menambahkan, dia dan Modi telah bicara soal Kashmir “secara panjang lebar” pada hari Minggu.


Keputusan New Delhi menghapus otonomi Kashmir telah membuat Pakistan marah, dan Pakistan telah dua kali berperang melawan India sehubungan masalah kawasan tersebut, dan PM Pakistan, Imran Khan Senin mengatakan, dia akan terus memperjuangkan hak-hak orang Kashmir. Khan mengatakan, dia merencanakan tur diplomatik dalam waktu dekat dan akan mengangkat isu ini di forum-forum internasional termasuk SU PBB pada September.


Pembicaraan Trump – Modi berlangsung sementara pemrotes yang melemparkan batu di Kashmir menewaskan seorang pengemudi truk, yang mereka kira adalah truk militer, ditengah-tengah lockdown keamanan yang melumpuhkan dan diberlakukan beberapa jam sebelum pengumuman atas status Kashmir itu.


New Delhi mengirim pasukan tambahan ke Kashmir, dimana sebelumnya sudah ada setengah juta tentara di sana. Selain itu, hubungan telepon dan internet diputus, pembatasan ruang gerak penduduk diberlakukan dan ribuan ditangkap, demikian menurut berbagai sumber.


Namun, mengubah bekas kerajaan Himalaya berpenduduk 7 juta itu menjadi benteng yang dilengkapi barikade dan kawat berduri, tidak menghalangi protes dan bentrokan dengan pasukan keamanan.


Kata India, sejauh ini tidak ada warga sipil yang tewas akibat tindakan polisi sejak 5 Agustus. Tetapi penduduk mengatakan tiga orang tewas, termasuk seorang ibu yang kesulitan bernapas setelah polisi menembakkan gas air mata ke dalam rumahnya.


Sumber-sumber RS mengatakan kepada kantor berita AFP, paling sedikit 100 orang cedera selama lockdown, beberapa akibat tembakan senjata.


Sebelum memberi komentarnya yang terbaru, Selasa lalu Trump, setelah berbicara lewat telepon dengan Modi dan Khan, menawarkan untuk melakukan mediasi atas situasi peka di Kashmir itu.


“Kashmir merupakan tempat yang rumit. Ada warga Hindu dan ada warga Muslim, dan menurut saya mereka tidak bersahabat,” demikian kata Trump kepada reporter di Gedung Putih. “Saya akan melakukan sebisa saya untuk melakukan mediasi,” demikian ditambahkannya.


India menegaskan, Kashmir merupakan masalah internal India, dan tidak mau ada mediasi dari pihak luar. (jm/ka)



Top News

Hosting Unlimited Indonesia