Hosting Unlimited Indonesia

Perjanjian Pemulangan Pengungsi Burundi dari Tanzania Picu Kekhawatiran

Kesepakatan untuk mulai memulangkan hampir 200.000 pengungsi Burundi dari Tanzania mulai Oktober telah memicu kecemasan di antara para pengungsi, dengan individu-individu mempertimbangkan banding ke PBB dan setidaknya satu kelompok masyarakat sipil menimbang tuntutan hukum atas setiap pengembalian paksa.


"Jelas pemerintah Tanzania, bekerja sama dengan pemerintah Burundi ingin memulangkan kami secara paksa," kata Renovat Nduwayo, seorang pengungsi di kamp Nduta di Tanzania barat mengenai perjanjian repatriasi antara kedua negara.


Menteri Dalam Negeri Tanzania Kangi Lugola dan mitranya dari Burundi, Pascal Barandagiye, menandatangani perjanjian yang diumumkan pada Minggu (25/8). Hingga Oktober, berdasarkan perjanjian itu pengungsi Burundi akan dipulangkan pada tingkat 2.000 per minggu dari beberapa kamp di Tanzania barat.


Angka-angka terbaru dari Badan Pengungsi PBB menunjukkan hampir 184.000 pengungsi Burundi berada di Tanzania, yang tersebar di antara kamp Nduta, Mtendeli, dan Nyarugusu. Mereka berada di antara hampir 350.000 warga Burundi yang melarikan diri dari kerusuhan politik di Burundi setelah pemilihan kontroversial 2015 yang memberi Presiden Pierre Nkurunziza masa jabatan ketiga yang memungkinkannya berkuasa hingga 2034.


Rakyat Burundi juga mencari perlindungan di negara-negara lain, terutama Rwanda, Republik Demokratik Kongo dan Uganda


Menteri Dalam Negeri Tanzania Lugola mengatakan perjanjian itu dirundingkan setelah pemerintah kedua negara "puas dengan situasi keamanan di Burundi."


Namun Nduwayo mengatakan para pengungsi tidak merasa situasi keamanan di Burundi telah membaik.[my/pp]



Top News

Hosting Unlimited Indonesia