Hosting Unlimited Indonesia

AS dan Taliban Hampir Sepakati Perjanjian Damai

Seorang juru runding di Washington DC hari Minggu (1/9) mengatakan Amerika dan Taliban hampir mencapai perjanjian setelah perang selama 18 tahun. Hal ini disampaikannya menjelang kunjungan utusan khusus Amerika ke Afghanistan di mana aksi kekerasan terbaru mengoyak bagian utara negara itu.


Kemajuan nyata pada putaran terakhir perundingan yang dilangsungkan di Doha itu terjadi ketika Taliban melancarkan serangan besar-besaran terhadap kota Kunduz di bagian utara Afghanistan dan memicu kekerasan di propinsi lain.


“Kami hampir mencapai perjanjian, yang akan mengurangi aksi kekerasan dan membuka pintu bagi warga Afghanistan untuk duduk bersama merundingkan perdamaian yang terhormat dan berkelanjutan, cuit utusan khusus Amerika untuk Afghanistan Zalmay Khalilzad, yang dijadwalkan akan tiba di Kabul hari Minggu guna membahas sejumlah perkembangan dengan pejabat-pejabat Afghanistan. 




Pernyataannya itu hanya berselang beberapa jam setelah pasukan keamanan Afghanistan mengatakan telah membersihkan Kunduz dari Taliban, yang Sabtu lalu (31/8) melancarkan serangan besar-besaran terhadap ibukota propinsi itu guna menguasai kembali wilayah itu sebagaimana yang terjadi tahun 2015 lalu.


Pasukan Afghanistan yang didukung kekuatan udara lokal dan Amerika berhasil menyudahi serangan itu dan mengusir Taliban, tetapi 20 tentara dan lima warga sipil tewas. Serangan Taliban itu diwarnai dengan serangan bom bunuh diri di mana seorang pelaku meledakkan bom yang dibawanya dan menewaskan juru bicara polisi Sayed Sarwari Hussaini yang sedang memberi penjelasan kepada wartawan tentang serangan itu. Sedikitnya 10 lainnya juga tewas, ujar pejabat itu.




Tahun 2015 lalu Taliban menguasai pasukan lokal dan sempat merebut Kunduz selama beberapa waktu, yang baru berhasil direbut kembali oleh pasukan Afghanistan berkat dukungan udara Amerika. Pertempuran sengit juga terjadi hari Minggu di Pul-e-Khumri, ibukota propinsi Baghlan, tetap para pejabat memastikan situasi “masih terkendali.”


Sementara itu di bagian utara propinsi Balkh, juru bicara gubernur Munir Ahmad Farhad mengatakan delapan warga sipil tewas ketika mobil mereka menabrak ranjau yang dipasang Taliban.


Menteri Luar Negeri Mike Pompeo sebelumnya berharap perjanjian perdamaian itu akan tercapai sebelum 1 September, menjelang pemilu Afghanistan pada 28 September mendatang.


Juru bicara Taliban di Doha, Suhail Shaheen, hari Sabtu (31/8) mengatakan perjanjian itu “hampir dicapai” tanpa merinci hambatan yang masih ada.


Perjanjian itu memusatkan pada dimulainya penarikan sekitar 13.000 personil pasukan Amerika di mana sebagai imbalannya Taliban menjamin bahwa Afghanistan tidak akan digunakan sebagai tempat persembunyian yang aman oleh para jihadis. Perundingan antara Taliban dan pemerintah Afghanistan, dan gencatan senjata, juga akan menjadi pilar utama perjanjian tersebut. (em/jm)



Top News

Hosting Unlimited Indonesia